Saturday, July 7, 2007
Setelah masuk tahun keenam dengan ditandai naiknya siswa kelas 5 ke kelas 6, alhamdulillah prestasi sekolah mulai menampakkan hasilnya.Dua siswa yaitu Fauzan Tri Subagyo, kelas 6 terpilih menjadi siswa taladan II tingkat kecamatan sepor Kebumen, Azam Taufik Abdillah menjadi juara I Popda karate tingkat SD se Kab. Kebumen, sedangkan Ikrim Nur Hayati menjadi Juara I siswa Teladan se Kecamatan Sempor, sebulan sebelumnya dia mampu menjadi juara III olimpiade matematika tingkat kec. Sempor
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
ALUMNI SD ISLAM AL HIKMAH
Nama : Afifah Nurfildzah
Panggilan : mba Afifah
Nama Ayah : Sakirin
Pekerjaan : Karyawan
Bunda : Kustinah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
TTL : Kebumen, 16 April 1996
Alamat : Rt.6/Rw.2 Selokerto Sempor Kebumen
Email : afifahsditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Membaca cerita
Cita-cita : Orang sukses
Makanan kesukaan : mie ayam, sate ayam
Tempat kesukaan : Pantai, pegunungan
Kesan : Dengan adanya sekolah SDITAH, akhlak siswa jadi lebih baik
Pesan : Adik kelasku… tambah rajin belajar dan patuhi tata tertib sekolah ya..
Nama : Agustiana
Panggilan : mba Tiana
TTL : Kebumen,28 Agustus 1996
Nama Ayah : Sadu (alm)
Pekerjaan :
Bunda : Rubiyah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
fAlamat : Rt.2/Rw.3 Selokerto Sempor Kebumen
Email : tianasditah@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Membaca dan bersilaturahim
Cita-cita : Orang yang sukses dunia akhirat
Makanan kesukaan : Mie ayam dan Sup ayam
Tempat kesukaan : Pantai dan Puncak
Kesan : Adanya sekolah ini saya banyak mendapatkan perubahan
Pesan : untuk adik–adik jangan lupa sholat 5 waktu dan taat pada ustadz
dan ustadzah
Nama : Dwi Nurindah Rahayu
Panggilan : mba Indah
TTL : Kebumen, 9 April 1996
Nama Ayah : Purnomo Sidi
Pekerjaan : Offshore mining
Bunda : Tuti
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.3/Rw.1 Selokerto Sempor Kebumen
Email : indahsditah08@gmail.com
Blog :
Hobi : Membaca buku
Cita-cita : Dokter anak
Makanan kesukaan : Sup dan Mie Ayam
Tempat kesukaan : Pantai
Kesan : Terimakasihku untuk semua Ustadz/ah di SD Islam Al Hikmah.
Saat kelas I bandel-bandel. Saat kelas VI tambah ngeyel dan bandel
Maaf kepada semua Ustadz/ah. Maaf juga kepada teman-teman dan
adik-adik kelas I-V.
Pesan : Jangan bandel dan harus giat belajar. Patuh pada Ortu dan Ustadz/ah.
Jangan puas dengan hasil yang sekarang.
- Walaupun muridnya hanya sedikit ,tapi kalian pasti bisa!!!!
- Bersiaplah menghadapi ujian-ujian yang melelahkan.
- Jangan pantang menyerah dan jangan mudah putus asa.
Nama : Enggartiasta Arif Ismawan
Panggilan : mas Enggar
TTL : Kebumen, 28 Januari 1996
Nama Ayah :
Pekerjaan : Pedagang
Bunda : Tati
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.6/Rw. 1 Selokerto
Email : enggarsditah08@yahoo.co.id
Blog : www.enggartiastaarifismawan.blogspot.com
Hobi : Sepak bola
Cita-cita : Dokter spesialis jiwa
Makanan kesukaan : Buah-buahan segar
Tempat kesukaan : Tempat yang sejuk (masih banyak pepohonan)
Kesan : Al-Hikmah adalah sekolah yang baik bagi generasi islam dan
ustadz/ustadzahnya sangat dekat dengan muridnya. Jadi aku senang
sekolah di Al-Hikmah.
Pesan : Kepada adik-adik kelasku semoga bisa menjadi lebih baik
dari aku dan insya Allah pasti bisaaa!!!!!!!!!. dan untuk Al-Hikmah
semoga menjadi baik
Nama : Fauzan Tri Subagyo
Panggilan : mas Fauzan
TTL : Kebumen,21 Mei 1995
Nama Ayah : Subandi, S.Pd.
Pekerjaan : PNS (guru)
Bunda : Rasimi
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.2/Rw.1 Bendungan Kuwarasan Kebumen
Email : fauzansditah08@yahoo.co.id
Blog : www.fauzan5.blogspot.com
Hobi : Bermain komputer, sepak bola, membaca buku
Cita-cita : Orang yang berhasil dalam hal akhirat maupun dunia
Makanan kesukaan : Sehat dan bergizi
Tempat kasukaan : Banyak manfaat daripada yang tidak bermanfaat
Kesan : Sebuah kebanggaan dapat sekolah di SD Islam Al-Hikmah yang
dengan metode pengajaran yang memadukan antara agama
dengan umum.
Pesan : Kepada adik-adik semoga menjadi generasi baru yang lebih baik,
lebih berakhlak mulia, lebih cerdas dan lebih berprestasi. Kepada
ustadz dan ustadzah semoga lebih sukses dalam mendidik anak
didik dan semoga mendapat balasan yang setimpal dari Alloh
S.W.T
Nama : Feri Nurohmah
Panggilan : mba Feri
TTL : Kebumen,20 Maret 1996
Nama Ayah : Hadi Raharjo
Pekerjaan : Buruh
Bunda : Wiji Sukempi
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.2/Rw. 5 Selokerto Sempor Kebumen
Email : ferisditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Olahraga
Cita-cita : Orang sukses
Makanan kesukaan : Sate, mie ayam
Tempat kasukaan : Pantai
Kesan : Ustadz / ustadzah tidak pernah capek untuk mengajar murid
murid dan maaf kalau saya banyak salah
Pesan : Untuk adik kelasku rajinlah belajar agar menjadi orang yang
sukses
Nama : Fiqi Dian Pratama
Panggilan : mas Fiqi
TTL : Kebumen,22 Januari 1996
Nama Ayah : Rakhmat Suhono
Pekerjaan : Perangkat Desa
Bunda : Timi
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.2/Rw.5 Sidoharum
Email : fiqisditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Sepak bola
Cita-cita : fiddunya wal aakhirati khasanah
Makanan kesukaan : Ayam goreng
Tempat kasukaan : Tempat yang sejuk
Kesan : Semoga sekolahan ini menjadi ,sekolahan yang terbaik
Dan semakin maju
Pesan : Kepada adik-adik kelasku dan sekolahku semoga
menjadi lebih baik
Nama : Ikrima Nur Hayati
Panggilan : mba rima
TTL : Kebumen, 25 Mei 1996
Nama Ayah : KH. Ikhsan
Pekerjaan : PNS (guru)
Bunda : Wagiyem
Pekerjaan : PNS (guru)
Alamat : Rt.1/Rw.5 Sidoharum Sempor Kebumen
Email : ikrimahayatisditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Membaca buku
Cita-cita : Guru/dosen
Makanan kesukaan : Sayur jamur
Tempat kasukaan : Magelang
Kesan : Terimakasihku untuk semua Ustadz/ah di SD Islam Al Hikmah.
Saat kelas I bandel-bandel. Saat kelas VI tambah ngeyel dan bandel
maaf kepada semua Ustadz/ah. Maaf juga kepada teman-teman dan
adik-adik kelas I-V.
Pesan : Jangan bandel dan harus giat belajar. Patuh pada Ortu dan Ustadz/ah.
Jangan puas dengan hasil yang sekarang.
- Walaupun muridnya hanya sedikit ,tapi kalian pasti bisa!!!!
- Bersiaplah menghadapi ujian-ujian yang melelahkan. Jangan
pantang menyerah dan jangan mudah putus asa.
Nama : Kukuh Setiadi
Panggilan : mas kukuh
TTL : Kebumen, 17 April 1996
Nama Ayah : Kuatman
Pekerjaan : Pedagang
Bunda : Kustiyah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.1/Rw.2 Selokerto Sempor Kebumen
Email : kukuhsditah08@yahoo.co.id
Blog : www.akubelumpunya.oom ???
Hobi : Sepak bola
Cita-cita : Pilot pesawat tempur
Makanan kesukaan : Ayam goreng
Tempat kasukaan : Tempat yang sejuk(masih banyak pepohonan)
Kesan : Semoga Al-Hikmah sukses dan saju
Pesan : Untuk adik-adik semoga lebih giat belajarnya
Nama : Latif Imam Fauzi
Panggilan : mas Latif
TTL : Kebumen, 18 Februari 1996
Nama Ayah : Ikhyar Amunanto, S.IP.
Pekerjaan : PNS
Bunda : Nur Khayati
Pekerjaan : PNS
Alamat : Rt.1/Rw. 5 Kemukus Gombong Kebumen
Email : latifsditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Buku tangkis
Cita-cita : Astronot pesawat ulang-alik asli buatan Indonesia
Makanan kesukaan : Ikan bakar
Tempat kasukaan : Tempat yang segar
Kesan : Semoga sekolahan ini menjadi sekolahan yang terfaforit
Pesan : jangan suka menyontek
Nama : Nadzif Syarofa
Panggilan : mas nadzif
TTL : Banyumas, 12 Agustus 1996
Nama Ayah : Muntofik Firbas
Pekerjaan : Wiraswasta
Bunda : Yayuk Dasmini
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.8/Rw.2 Selokerto Sempor Kebumen
Email : nadzifsditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Sepak bola, tidur siang
Cita-cita : TNI AU
Makanan kesukaan : Masakan ibu
Tempat kasukaan : Rumah sendiri
Kesan : Al-Hikmah adalah sekolah yang dapat membuat anak Islam
menjadi mandiri dan berwawasan luas(global)
Pesan : Kepada adik-adik lebih baik daripada kita dan semoga ustadz/ah
Semoga lebih sabar untuk mendidik anak muridnya
Nama : Nur Alfine Husna Haque
Panggilan : mba Alfine
TTL : Kebumen, 17 Januari 1997
Nama Ayah : M. Samsudin
Pekerjaan : Wiraswasta
Bunda : Sya’ Humayah
Pekerjaan : Dagang
Alamat : Rt.2/Rw.5 Mergosono Buayan Kebumen
Email : alfinsditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Senyum dan bersedekah
Cita-cita : Polwan yang berjilbab
Makanan kesukaan : mie ayam dan soto ayam
Tempat kasukaan : Langalujung
Kesan : SD Islam Al Hikmah makin sukses
Pesan : Buat adik kelasku jangan nakal dan patuh kepada ustadz dan
ustadzah
Nama : Pretty Intan Yeniarsari
Panggilan : mba Intan
TTL : Kebumen, 26 Januari 1996
Nama Ayah : Mutohar
Pekerjaan : PNS (guru)
Bunda : Sriyanti
Pekerjaan : Pendidik
Alamat : Rt.5/Rw.1 Sukomulyo
Email : intansditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Menggambar dan olahraga
Cita-cita : Arsitek
Makanan kesukaan : Mie Ayam dan Bakso
Tempat kesukaan : Pantai
Kesan : Semenjak saya sekolah di SD Islam Al Hikmah, ilmu tentang
Agama saya semakin banyak..
Pesan : Untuk adik2, tolong kakak minta, jagalah nama baik
SD Islam Al Hikmah, semoga SD Islam Al Hikmah semakin sukses
Nama : Ridha Dewi Setyowati
Panggilan : mba Rida
TTL : Kebumen, 30 November 1996
Nama Ayah : Syaifudin
Pekerjaan : Pedagang
Bunda : Uswati
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt. 4/Rw 5 Wonokriyo Gombong
Email : ridasditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Bermain peran
Cita-cita : Menteri or presiden
Makanan kesukaan : Mie ayam, bakso pedassssssssss
Tempat kesukaan : Taman indah dan segar
Kesan : Meskipun kelas 6 ini lulusan pertama tetapi SD Islam ini sudah
banyak meraih juara walaupun kita tidak mesti juara tetapi kita
harus lebih maju dan meraih impian kita masing–masing .
Pesan : Adik-adik kelas harus meningkatkan nama baik SD Islam ini dan harus
menuruti perintah ustadz/ah dan agar lebih sholeh/ah.
Nama : Syarif Hidayatulloh
Panggilan : mas Syarif
TTL : Kebumen, 9 November 1995
Nama Ayah : Warsino
Pekerjaan : Wiraswasta
Bunda : Siti Khanifah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.2/Rw.4 Selokerto
Email : syarifsditah@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Sepak bola gadjah
Cita-cita : Presiden Republik Mimpi
Makanan kesukaan : Ayam goreng
Tempat kesukaan : Tempat yang sejuk
Kesan : Sekolahan ini lebih lengkap fasilitasnya
Pesan : Untuk adik-adik jangan suka usil
Nama : Umi Amanah
Panggilan : mba Umi A
TTL : Kebumen, 21 Juni 1996
Nama Ayah : Ahmad Rianto (alm)
Pekerjaan : -
Bunda : Poniah
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Rt.2/Rw.1 Jatinegara Sempor Kebumen
Email : umiamanahsditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Olahraga, menggambar
Cita-cita : Meaningful 4 all
Makanan kesukaan : Mie ayam, sate
Tempat kasukaan : Pantai, pegunungan
Kesan : Semenjak saya sekolah di sini ilmu saya yang sebelumnya kosong
sekarang menjadi bertambah
Pesan : untuk adik adik belajarlah dengan giat dan patuhilah nasehat
Ustadz/ah, raihlah cita-cita setinggi mungkin
Nama : Umi Rofiqoh
Panggilan : mba Umi Ro
TTL : Kebumen, 29 September 1996
Nama Ayah : Mislam
Pekerjaan : Petani
Bunda : Hesti
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.4/Rw.2 Selokerto Sempor Kebumen
Email : umirofiqohsditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Silaturahim
Cita-cita : Orang sukses
Makanan kesukaan : Mie ayam dan sate ayam
Tempat kasukaan : Pantai dan pegunungan
Kesan : Disekolah ini siswa siswi mempunyai akhlak yg baik
Pesan : Jangan lupa belajar OK …..
Nama : Yudhit Anindita Yuwono
Panggilan : mba Yudhit
TTL : Kebumen,30 Agustus 1996
Nama Ayah : Subroto
Pekerjaan : Pedagang
Bunda : Haryani
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.1/Rw.1 Selokerto Sempor
Email : yudhitsditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Membaca
Cita-cita : Dokter hewan
Makanan kesukaan : Sate bebek
Tempat kasukaan : Taman
Kesan : Semoga murid di Al Hikmah makin rajin dan pintar
Pesan : Semoga sekolah ini makin bagus
Nama : Musyafa Hamdani
Panggilan : mas Dani
TTL : Kebumen,11 Nofember 1995
Nama Ayah : Sukir
Pekerjaan : PNS
Bunda :
Pekerjaan : PNS
Alamat : Rt.3/Rw1 Sidoharum Sempor Kebumen
Email : danisditah08@yahoo.co.id
Blog :
Hobi : Balapan pit
Cita-cita : Ahli robotika
Makanan kesukaan : Ikan pepes
Tempat kasukaan : Tempat yang sejuk dan sepi
Kesan : Al-Hikmah adalah sekolah yang bagus dan baik pengajarannya
Pesan : Kepada adik-adik semoga semua agar mentaati perintah guru dan juga
Ketika pelajaran harus disiplin semoga adik-adik semua bisa
meraih cita-cita setinggi-tingginya
Nama : Suraya Khairunisa
Panggilan : mba Anis
TTL : Samarinda, 15
Nama Ayah : Ir. Ahmad Sayogo
Pekerjaan : Pendidik
Bunda : Suwarni
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Rt.01 Rw.1
Email : anissditah08@yahoo.co.id
Blog : www.nonasuraya.blogspot.com
Hobi : Membaca
Cita-cita : Dokter obstetric dan gynecologic (kandungan)
Makanan kesukaan : Martabak terang bulan.
Tempat kasukaan : Toko buku
Kesan : Terima kasih untuk SD Al Hikmah karena sesudah saya sekolah
di sini saya banyak perubahan. Saya do’akan semoga sekolah ini
semakin bermanfaat dan maju.
Pesan : belum ada pesan, via SMS aja kapan-kapan
Haji Misbach: Muslim Komunis
Haji Misbach: Muslim Komunis
Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Lahir di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dibesarkan sebagai putra seorang pedagang batik yang kaya raya. Bernama kecil Ahmad, setelah menikah ia berganti nama menjadi Darmodiprono. Dan usai menunaikan ibadah haji, orang mengenalnya sebagai Haji Mohamad Misbach.
Kauman, tempat Misbach dilahirkan, letaknya di sisi barat alun-alun utara, persis di depan keraton Kasunanan dekat Masjid Agung Surakarta. Di situlah tinggal para pejabat keagamaan Sunan. Ayah Misbach sendiri seorang pejabat keagamaan. Karena lingkungan yang religius itulah, pada usia sekolah ia ikut pelajaran keagamaan dari pesantren, selain di sekolah bumiputera "Ongko Loro".
Menjelang dewasa, Misbach terjun ke dunia usaha sebagai pedagang batik di Kauman mengikuti jejak ayahnya. Bisnisnya pun menanjak dan ia berhasil membuka rumah pembatikan dan sukses. Pada 1912 di Surakarta berdiri Sarekat Islam (SI). Bicara kepribadian Misbach, orang memuji keramahannya kepada setiap orang dan sikap egaliternya tak membedakan priyayi atau orang kebanyakan. Sebagai seorang haji ia lebih suka mengenakan kain kepala ala Jawa, Misbach mulai aktif terlibat dalam pergerakan pada tahun 1914, ketika ia berkecimpung dalam IJB (Indlandsche Journalisten Bond)-nya Marco. Pada tahun 1915, ia menerbitkan surat kabar Medan Moeslimin, yang edisi pertamanya tertanggal 15 Januari 1915 dan kemudian menerbitkan Islam Bergerak pada tahun 1917. Surat-surat kabar ini menjadi media gerakan yang sangat populer di Surakarta dan sekitarnya.
Marco Kartodikromo, salah satu tokoh pergerakan pada saat itu berkisah tentang Misbach:
".. Di Pemandangan Misbach tidak ada beda di antara seorang pencuri biasa dengan orang yang dikata berpangkat, begitu juga di antara rebana dan klenengan, di antara bok Haji yang bertutup muka dan orang bersorban cara Arab dan berkain kepala cara Jawa. Dan sebab itu dia lebih gemar memaki kain kepala dari pada memakai peci Turki atau bersorban seperti pakaian kebanyakan orang yang disebut "Haji".
Apa yang tersirat dari tulisan Marco adalah populisme Misbach. Populisme seorang Haji, sekaligus pedagang yang sadar akan penindasan kolonialis Belanda dan tertarik dengan ide-ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia pada jaman itu.
Misbach langsung terjun melakukan pengorganisiran di basis-basis rakyat. Membentuk organisasi dan mengorganisir pemogokan ataupun rapat-rapat umum/vergadering yang dijadikan mimbar pemblejetan kolonialisme dan kapitalisme.Bulan Mei 1919 akibat pemogokan-pemogokan petani yang dipimpinnya, Misbach dan para pemimpin pergerakan lainnya di Surakarta ditangkap.
Pada 16 Mei 1920, ia kembali ditangkap dan dipenjarakan di Pekalongan selama 2 tahun 3 bulan. Pada 22 Agustus 1922 dia kembali ke rumahnya di Kauman, Surakarta. Maret 1923, ia sudah muncul sebagai propagandis PKI/SI Merah dan berbicara tentang keselarasan antara paham Komunis dan Islam. Bulan Juli 1924 ia ditangkap dan dibuang ke Manokwari dengan tuduhan mendalangi pemogokan-pemogokan dan teror-teror/sabotase di Surakarta dan sekitarnya. Walaupun bukan yang pertama diasingkan tapi ia-lah orang yang pertama yang sesungguhnya berangkat ke tanah pengasingan di kawasan Hindia sendiri.
Orang menggambarkan Haji Misbach sebagai sosok yang tak segan bergaul dengan anak-anak muda penikmat klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer. Satu tulisan tentang Misbach menyebutkan, di tengah komunitas pemuda, Misbach menjadi kawan berbincang yang enak, sementara di tengah pecandu wayang orang Misbach lebih dihormati ketimbang direktur wayang orang.
"... di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama."
Takashi Shiraisi mengungkapkan perbedaan dinamika sosial Islam di Yogya dan Surakarta. Ini dikaitkan dengan persamaan dan perbedaan antara KH Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan, Misbach, seorang muslim ortodoks yang saleh, progresif, dan hidup di Surakarta.
Di Yogya, Muhammadiyah yang lahir pada 1912 di Kauman, segera menjadi sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh yang kebanyakan berlatar belakang keluarga pegawai keagamaan Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid Agung dan ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di Yogya. Dahlan sendiri sempat dipercaya menjadi chatib amin. Para penganjur Muhammadiyah umumnya anak-anak pegawai keagamaan. Kala itu birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga, kata Shiraisi, wewenang keagamaannya tidak berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar Islam, masih kalah wibawa dibandingkan para kiai yang pesantrennya bebas dari negara.
Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil menyatukan umat Islam yang terpecah-pecah. Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid, pendirian lembaga pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan umat Islam. Mereka tumbuh menjadi pesaing tangguh misionaris Kristen dan aktivis sekolah-sekolah bumiputera yang didirikan pemerintah.
Lain dengan di Surakarta. Kala itu belum ada pengaruh sekuat Dahlan dan Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta sudah ada sekolah agama modern pertama di Jawa, Madrasah Mamba'ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati Sosrodiningrat (1906) dan SI pun sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan yang progresif, kiai, guru-guru Al-Quran, dan para pedagang batik mempunyai forum yang berwibawa, Medan Moeslimin. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain tersalur. Kelompok ini menyebut diri "kaum muda Islam".
Beda pergerakan Islam Surakarta dan Yogya, di Yogya reformis tentu juga modernis, tetapi di Surakarta kaum muda Islam memang modernis tetapi belum tentu reformis. Kegiatan keislaman di Solo banyak dipengaruhi kiai progresif tapi ortodoks, seperti Kiai Arfah dan KH Adnan. Sampai suatu ketika ortodoksi yang cenderung menghindar ijtihad itu terpecah pada 1918.
Perpecahan kelompok Islam di Surakarta dipicu artikel yang dimuat dalam Djawi Hiswara, ditulis Martodharsono, seorang guru terkenal dan mantan pemimpin SI. Ketika artikel itu muncul di Surakarta tidak langsung terjadi protes, tetapi Tjokroaminoto memperluas isi artikel dan menyerukan pembelaan Islam atas pelecehan oleh Martodharsono. Seruan itu muncul di Oetoesan Hindia, sehingga bangkitlah kaum muda Islam Surakarta.
Tjokroaminoto membentuk Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM), yang mencuatkan nama Misbach sebagai mubalig vokal. Mengiringi terbentuknya TKNM, lahir perkumpulan tablig reformis bernama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV). Haji Misbach menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium. Komunitas yang dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba menjadi dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di lapangan Sriwedari, pada 24 Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an orang. Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo (penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam), dua orang kepercayaannya di TKNM. Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga wibawa Islam terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya. Inilah awal perang membela Islam dari "kaum putihan" Surakarta. Belakangan, muncul kekecewaan jamaah TKNM ketika Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada Martodharsono dan Djawi Hiswara setelah mencuatnya pertikaian menyangkut soal keuangan dengan H Hasan bin Semit. Buntutnya, Hasan bin Semit keluar dari TKNM. Beredar artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti "korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam".
Dalam situasi itu muncul Misbach menggantikan Hisamzaijni, ketua subkomite TKNM dan menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Medan Moeslimin. Artikel pertama Misbach di media ini, Seroean Kita. Dalam artikel itu Misbach menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Takashi, menulis seperti berbicara dalam forum tablig. Ia mengungkapkan pendapatnya, bergerak masuk ke dalam kutipan Al-Quran kemudian keluar lagi dari ayat itu. "Persis seperti membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran dalam pertemuan tablig."
Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian secara kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis melibatkan para pedagang batik dan generasi santri yang lebih muda. Menurut Shiraisi, ada dua perbedaan SATV dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya, sedangkan SATV adalah perhimpunan muslimin saleh yang merasa dikhianati oleh kekuasaan keagamaan, manipulasi pemerintah, dan para kapitalis non muslim. Kedua, militansi para penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa bekerja di Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati. Sedangkan militansi SATV berasal dari rasa takut untuk melakukan manipulasi, dan keinginan kuat membuktikan keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV, muslim mana pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya berarti muslim gadungan.
SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan keagamaan di Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati, tetapi "Islam lamisan", "kaum terpelajar yang berkata mana yang bijaksana yang menjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri." Dasar keyakinan SATV dengan Misbach sebagai ideolognya, "membuat agama Islam bergerak". Misbach kondang di tengah muslimin bukan sekadar karena tablignya, melainkan ia menjadi pelaku dari kata-kata keras yang dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas karena perbuatannya "menggerakkan Islam": menggelar tablig, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras penyakit hidup boros dan bermewah-mewah, dan semua bentuk penghisapan dan penindasan.
"Jangan takut, jangan kawatir"
Misbach sangat antikapitalis. Siapa yang secara kuat diyakini menjadi antek kapitalis yang menyengsarakan rakyat akan dihadapinya melalui artikel di Medan Moeslimin atau Islam Bergerak. Tak peduli apakah dia juga seorang aktivis organisasi Islam. Berdamai dengan pemerintah Hindia Belanda adalah jalan yang akan dilawan dengan gigih. Maka kelompok yang anti politik, anti pemogokan, secara tegas dianggapnya berseberangan dengan misi keadilan.
Misbach membuat kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919. Isinya menohok kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerja-paksakan mereka, memberi upah kecil, membebani pajak. Residen Surakarta digugat, Paku Buwono X digugat karena ikut-ikutan menindas. Retorika khas Misbach, muncul dalam kartun itu sebagai "suara dari luar dunia petani". Bunyinya, "Jangan takut, jangan kawatir". Kalimat ini memicu kesadaran dan keberanian petani untuk mogok. Ekstremitas sikap Misbach membuat ia ditangkap, 7 Mei 1919, setelah melakukan belasan pertemuan kring (subkelompok petani perkebunan). Tapi akhirnya Misbach dibebaskan pada 22 Oktober sebagai kemenangan penting Sarekat Hindia (SH), organisasi para bumiputera.
Misbach menegaskan kepada rakyat "jangan takut dihukum, dibuang, digantung", seraya memaparkan kesulitan Nabi menyiarkan Islam. Misbach pun sosok yang selain menempatkan diri dalam perjuangan melawan kapitalis, ia meyakini paham komunis. Misbach mengagumi Karl Marx, dia sempat menulis artikel Islamisme dan Komunisme di pengasingan. Marx di mata Misbach berjasa membela rakyat miskin, mencela kapitalisme sebagai biang kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Agama pun dirusak oleh kapitalisme sehingga kapitalisme harus dilawan dengan historis materialisme.
Misbach kecewa terhadap lembaga-lembaga Islam yang tidak tegas membela kaum dhuafa. Berjuang melawan kapitalisme tak membuat Misbach tidak menegakkan Islam. Baginya, perlawanan terhadap kapitalis dan pengikutnya sama dengan berjuang melawan setan. Misbach pun ketika CSI (Central Sarekat Islam) pecah melahirkan PKI/SI Merah, memilih ikut Perserikatan Kommunist di Indie (PKI), bahkan mendirikan PKI afdeling Surakarta.
Terkait dengan "teror-teror" yang terjadi di Jawa, Misbach tetap dipercaya sebagai otaknya. Misbach ditangkap. Dalam pengusutan sejumlah fakta memberatkannya meskipun belakangan para saksi mengaku memberi kesaksian palsu karena iming-iming bayaran dari Hardjosumarto, orang yang "ditangkap" bersama Misbach. Hardjosumarto sendiri juga mengaku menyebarkan pamflet bergambar palu arit dan tengkorak, membakar bangsal sekatenan, dan mengebom Mangkunegaran.
Namun Misbach tetap tidak dibebaskan. Dia dibuang ke Manokwari, Papua, beserta dengan istri dan tiga anaknya. Selama penahanan di Semarang, tak seorang pun diizinkan menjenguknya. Misbach hanya dibolehkan membaca Al-Qur'an. Di pengasingan, selain mengirim laporan perjalanannya, Misbach juga menyusun artikel berseri "Islamisme dan Komunisme".
Medan Moeslimin kemudian memuat artikel Misbach tersebut,
".agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum."
Di tengah ganasnya alam di tempat pembuangannya Misbach terserang malaria dan meninggal di pada 24 Mei 1926 dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya.****
Sumber : Tabloid Pembebasan Edisi V/Thn II/Februari 2003
Sphere: Related Content
DI 9:22 AM 0 KOMENTAR LINK KE POSTING INI
LABEL: HAJI MISBACH
Lebih nyaman melempar Jumrah
Jumat, 21 Jan 2005
Jawa Pos
MINA - Ritual pelaksanaan ibadah haji tahun ini berakhir kemarin. Setelah melempar jumrah, jamaah haji kembali ke Makkah untuk mengitari Ka’bah. Sekitar dua juta jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia itu melaksanakan ritual melempar jumrah. Dengan batu-batu kecil, mereka melempari tembok yang mewakili wujud setan.
Reporter JTV (Jawa Pos Group) Sentot Noerachman di Mina melaporkan, ritual melempar jumrah pada ibadah haji tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Tembok sebagai simbol setan yang harus dilempar oleh jamaah haji sudah diperlebar. Kini tidak lagi berbentuk tugu, tapi berupa dinding dengan panjang 46 meter dan lebar 14 meter.
Jamaah haji bisa melempar jumrah tepat ke sasaran dari jarak jauh. Sebab, sasarannya sudah menjadi sangat besar. Tidak seperti sebelumnya, jamaah haji harus mendekati tugu tembok setan itu agar bisa melempar tepat sasaran. Mereka harus berdesak-desakan dan saling berebut untuk mendekati tugu itu.
"Alhamdulillah, kini dari jarak 10 meter pun bisa kena. Tahun ini lebih mudah," kata beberapa jamaah haji asal Indonesia. Selain membesarkan wujud simbol setan, pemerintah Kerajaan Arab Saudi juga menambah dua pintu darurat di jumratan (tempat melempar jumrah).
Melempar jumrah merupakan salah satu ritual paling berbahaya. Sebab, mereka harus berdesak-desakan agar bisa mendekati tembok tempat melempar jumrah. Sebelumnya, tidak sedikit jamaah haji yang meninggal karena terinjak jamaah haji lain saat melempar jumrah. Pada 1990, 1.426 jamaah haji meninggal, sedangkan tahun lalu 251 jamaah meninggal. "Syukur tidak ada korban pada tahun ini," sambung mereka.
Raja Saudi Fahd dan Putra Mahkota Abdullah bin Abdul Aziz menandai datangnya Idul Adha dengan meminta kaum muslim menolak terorisme. Mereka mengatakan, terorisme adalah hal tabu dalam Islam.
"Arti Id dalam Islam beragam, termasuk simpati kaum muslim atas kebutuhan kaum yang lain dan bekerja sama dengan mereka dalam hal-hal baik. Menghindari perbuatan yang keterlaluan dan ekstrem," kata mereka dalam pesan bersama.
"Kaum muslim harus mulai bergabung dalam jalan melawan terorisme yang menebarkan kekerasan dan merusak serta dilarang oleh Islam," lanjutnya. Di beberapa masjid di Makkah, khatib mengingatkan agar kaum muslim membuka mata dan hati untuk para korban tsunami di Aceh dan kawasan lain. (afp/ap/tia)
Tanggapan Luthfi Assyaukanie
Obyek Jumrah Diganti, Kapan Giliran Kambing?
Pemeritah Saudi Arabia membuat revolusi "besar". Obyek jumrah
yang sebelumnya berbentuk tiang kecil, kini diganti menjadi sebuah
tembok besar (meski tidak sebesar great wall di Cina). Kendati
kelihatannya sederhana, ini adalah gebrakan lumayan besar. Karena
para ulama kerap mengacu pada 2 diktum ini: "al-ashlu fi al-'ibadah
al-hurmah" (dalam ibadah tak ada inovasi) dan "man ahdatsa fi amrina
ma laisa minhu fahuwa raddun" (kalau ada inovasi, ia harus ditolak).
Alasan dari perubahan itu adalah maslahah 'ammah, setelah beberapa
kali medan jumrah itu menelan korban manusia. Agaknya, para ulama
baru tergerak kalau korban benar-benar ada dan sudah nyata-nyata
banyak (seperti peristiwa Jumrah tahun lalu dan tahun-tahun
sebelumnya, di mana ratusan manusia mati terinjak dan berdesakan
karena mengincar tiang jumrah yang hampir tak nampak).
Tapi, itu sebetulnya belum cukup. Bagaimana dengan obyek sembelihan?
Bagaimana dengan nasib para kambing dan unta yang menjadi korban
upacara kurban? Apakah para ulama harus menunggu dampak negatif dulu
dalam kapasitas besar, untuk kemudian mengeluarkan fatwa
perubahannya? (misalnya populasi kambing atau unta punah, atau cara-
cara penyembelihan seperti itu tak higienis, mencemarkan lingkungan,
dan berpotensi membawa penyakit?).
Luthfi
------
Sphere: Related Content
DI 9:18 AM 0 KOMENTAR LINK KE POSTING INI
LABEL: HAJI
Mengapa Idul Adha jatuh Jumat?
Oleh Nadjib Hamid *
Sejak Pemerintah Arab Saudi menyiarkan bahwa wukuf akan diselenggarakan Rabu
(19/1/2005) -berbeda dari hasil rukyat yang dilakukan di Saudi sendiri pada
10 Januari, yang menetapkan wukuf hari Kamis, sesuai kalender yang beredar
di Saudi- terjadilah banyak pertanyaan pada sebagian kaum muslimin
Indonesia.
Mengapa? Sebab, baik hasil rukyat maupun hisab yang dilakukan di sini, baik
oleh pemerintah maupun ormas, hasilnya sama dengan pengumuman Saudi yang
pertama. Tanggal 1 Zulhijah jatuh pada Rabu, 12 Januari 2005, wukuf 9
Zulhijah jatuh pada hari Kamis, 20 Januari 2005, dan hari raya Idul Adha (10
Zulhijah) jatuh Jumat, 21 Januari 2005.
Pertanyaannya, bagaimana mekanisme Saudi dalam penetapan susulan itu?
Padahal, ketika rukyat dinyatakan tidak melihat hilal, sementara hasil
hisab, ijtima' (konjungsi) menjelang awal Zulhijah 1425 di Saudi terjadi
pada Senin, 10 Januari 2005, pukul 14:44:39,63 waktu setempat. Pada saat
terbenam matahari, posisi hilal negatif (10 21' 38,46" di bawah ufuk).
Jadi, pada saat matahari terbenam di Arab Saudi, bulan sudah lebih dahulu
terbenam. Berdasarkan perhitungan ini, tidak mungkin pada senja hari Senin
10 Januari 2005 itu hilal terlihat. Seperti sudah dibuktikan ketika rukyat.
Hal yang sama terjadi di Indonesia. Ijtima' (ketika bulan dan matahari
terletak pada posisi garis bujur yang sama bila dilihat dari arah timur atau
barat) terjadi Senin, 10 Januari 2005 pukul 19.03 WIB, di Tanjung Kodok.
Pada saat matahari terbenam, posisi bulan negatif, berada pada 00 48' 55,08"
di bawah ufuk. Jadi, pada saat matahari terbenam, bulan sudah lebih dahulu
terbenam. Berdasarkan perhitungan ini, tidak mungkin pada senja Senin 10
Januari 2005 itu hilal terlihat, seperti sudah terbukti ketika dilakukan
rukyat, tak satu pun lokasi rukyat melaporkan melihat hilal pada senja itu.
Berdasarkan kenyataan itu, maka 1 Zulhijah 1425 ditetapkan jatuh pada hari
Rabu, 12 Januari 2005. Hari raya Idul Adha tanggal 10 Zulhijah 1425
bertepatan dengan hari Jumat, 21 Januari 2005.
Rukyat dan Hisab
Karena masih ada sebagian umat yang menolak rukyat, karena tidak ada
kepastian hukum, atau sebaliknya menolak hisab, karena dianggap tidak ada
pada zaman Rasulullah, dan ada pula yang tak peduli hasil hisab maupun
rukyat, hanya taqlid saja pada Arab Saudi -wuquf di Arafah pedomannya- maka
ada baiknya dipaparkan beberapa sistem perhitungan dalam penentuan awal
bulan Qamariyah.
Ada dua sistem pokok dalam penentuan awal bulan Qamariyah, yakni rukyat dan
hisab. Perdebatan tentang rukyat dan hisab seharusnya sudah selesai karena
pada dasarnya, baik rukyat maupun hisab, pijakan hukumnya sama. Yakni,
Hadits Rasulullah "shumu lirukyatihi wa aftiru lirukyatihi". Perintah
rukyatulhilal untuk memperoleh kapastian awal bulan, ketika itu dilakukan
secara langsung dengan mata telanjang (rukyat bil'ain).
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, selain rukyat bil'ain,
dilakukan pula rukyat bililmi (rukyat melalui perhitungan ilmiah), yang
lebih dikenal dengan ilmu hisab atau ilmu falak. Seperti yang sudah
diamalkan sahabat Kibar Muthorrof ibn al-Sahir Abu al Abbas ibn Suraih dan
Abu Quthaibah.
Rukyat itu sendiri sekadar cara untuk memperoleh kepastian awal bulan, yang
dipakai menjalankan ibadah, sehingga memungkinkan untuk dikembangkan
metodologinya. Seperti halnya dalam kasus penetapan waktu salat, kini tidak
lagi melihat bayangan matahari ketika orang mau salat, cukup melihat jam,
itulah hasil hisab.
Hingga kini, sistem rukyat masih terus digunakan. Sistem ini mengharuskan
kita melihat hilal pada tanggal 29 bulan Qamariyah. Jika hilal dapat dilihat
ketika matahari terbenam (saat terjadinya ijtima'), maka malam itu dan
keesokan harinya dinyatakan sebagai bulan baru. Jika tidak, disempurnakan
(istikmal) menjadi 30 hari.
Sementara dalam hisab, di Indonesia ada dua aliran, yakni hisab haqiqi dan
hisab urfi. Hisab urfi adalah sistem perhitungan kalender yang didasarkan
pada peredaran rata-rata bulan mengelilingi bumi dan ditetapkan secara
konvensional. Sedangkan hisab haqiqi didasarkan pada peredaran bulan dan
bumi yang sebenarnya, bahwa umur tiap bulan tidaklah konstan dan juga tidak
beraturan, tergantung pada posisi hilal setiap awal bulan, boleh jadi, dua
bulan berturut-turut umurnya 29 hari atau 30 hari, atau boleh jadi,
bergantian seperti menurut hisab urfi.
Dalam hisab haqiqi, terdapat tiga cara penghitungan. Yakni, sistem ijtima',
sistem imkanur rukyat, dan sistem wujudul hilal. Sistem ijtima',
perhitungannya didasarkan pada waktu terjadinya ijtima' (ketika bulan dan
matahari terletak pada posisi garis bujur yang sama bila dilihat dari arah
timur atau barat), apakah terjadinya sebelum terbenam matahari, atau
setelahnya.
Jika terjadi sebelumnya, maka setelah matahari terbenam sudah dihitung
tanggal satu bulan baru (ijtima' qablal ghurub). Tetapi jika terjadi
sesudahnya (ijtima' bakdal ghurub), malam itu belum dihitung tanggal baru.
Pada sistem imkanur rukyat, penetapannya didasarkan pada ada tidaknya
kemungkinan hilal dapat dilihat dengan memperhitungkan ketinggian hilal pada
saat matahari terbenam tanggal 29 bulan yang sedang berjalan. Problem
utamanya ialah menetapkan had irtifa' imkanur rukyat.
Jika irtifa' di atas batas tersebut, mungkin hilal dapat dirukyat, tetapi
bila irtifa' di bawah had, maka hilal belum dapat dilihat. Ukuran
kemungkinannya, semula 10 derajat, lalu bergeser 9 derajat, terakhir turun
sampai 2 derajat.
Jadi, jika hasil hisab menunjukkan ketinggian hilal pada waktu itu 2
derajat, berarti malam itu sudah dihitung tanggal satu bulan baru. Hanya,
hasil Konferensi Internasional di Istambul Turki (November 1978) yang
dihadiri pakar astronomi Islam dari seluruh negara Islam, menetapkan
kriterium hilal kemungkinan dapat dirukyat ialah 5 derajat dan jarak sudut
antara matahari dan bulan 7 sampai 8 derajat. Konsekuensinya, laporan adanya
orang dapat melihat hilal pada ketinggian kurang dari 5 derajat harus
ditolak.
Sedangkan sistem wujudul hilal, perhitungannya atas dasar mana yang lebih
dulu terbenam, matahari atau bulan, tanpa terpengaruh ketinggian hilal. Jika
yang lebih dulu tenggelam adalah matahari, yang artinya hilal telah wujud,
maka malam itu sudah masuk tanggal satu bulan baru. Kendati hanya berjarak 1
menit ataupun kurang, dan sulit diobservasi dengan pengamatan mata.
Sebaliknya, bila bulan tenggelam lebih dulu daripada matahari, maka malam
itu masih dihitung sebagai bagian ketiga puluh bulan yang sedang berjalan.
Ketiga sistem hisab tersebut hasil perhitungannya mengenai saat terjadinya
ijtima', tinggi hilal, waktu matahari terbenam, dan waktu bulan terbenam
sebenarnya sama. Bedanya terletak pada aplikasi hasil perhitungannya. Tetapi
dari ketiga sistem tersebut, hisab haqiqi dengan prinsip wujudul hilal
dinilai dapat memberikan kepastian dibanding cara lain, terutama imkanur
rukyat.
Berkaitan dengan Idul Adha tahun ini, berdasarkan sistem rukyat maupun
hisab, hasilnya sama, 1 Zulhijah jatuh pada Rabu 12 Januari 2005. Itulah
dasar pijakan mengapa kita berhari raya Jumat, 21 Januari 2005. Hari ini.
* Nadjib Hamid, wakil sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=152806
Jumat, 21 Jan 2005,
Sphere: Related Content
DI 9:12 AM 0 KOMENTAR LINK KE POSTING INI
LABEL: IDUL ADHA
Renungan Sadik Jalal Al-Azm
Salam,
Sadik Jalal Al-Azm adalah seorang intelektual Siria yang cukup terkenal. Berikut ini adalah refleksi dia tentang peristiwa 11/9, terorisme, Jihad Islam, dll.
Selamat membaca!
Ulil Abshar-Abdalla
email: ulil99@yahoo.com
================================
Time Out of Joint
Western dominance, Islamist terror, and the Arab
imagination
Sadik J. Al-Azm
I
8 There is a strong injunction in Arab Islamic culture
against shamateh, an emotion—like schadenfreude—of
taking pleasure in the suffering of others. It is
forbidden when it comes to death, even the violent
death of your mortal enemies. Yet it would be very
hard these days to find an Arab, no matter how sober,
cultured, and sophisticated, in whose heart there was
not some room for shamateh at the suffering of
Americans on September 11. I myself tried hard to
contain, control, and hide it that day. And I knew
intuitively that millions and millions of people
throughout the Arab world and beyond experienced the
same emotion.
I never had any doubts, either, about who perpetrated
that heinous crime; our Islamists had a deep-seated
vendetta against the World Trade Center since their
failed attack on it in 1993. As an Arab, I know
something about the power of vengeance in our culture
and its consuming force. I also knew that the United
States would respond with all its force to crush the
Islamist movement worldwide into oblivion. But I
didn’t understand my own shameful response to the
slaughter of innocents. Was it the bad news from
Palestine that week; the satisfaction of seeing the
arrogance of power abruptly, if temporarily, humbled;
the sight of the jihadi Frankenstein’s monsters, so
carefully nourished by the United States, turning
suddenly on their masters; or the natural resentment
of the weak and marginalized at the peripheries of
empires against the center, or, in this case, against
the center of the center? Does my response, and the
silent shamateh of the Arab world, mean that
Huntington’s clash of civilizations has come true, and
so quickly?
In the end, no. Despite current predictions of a
protracted global war between the West and the Islamic
world, I believe that war is over. There may be
intermittent battles in the decades to come, with many
innocent victims. But the number of supporters of
armed Islamism is unlikely to grow, its support
throughout the Arab Muslim world will likely decline,
and the opposition by other Muslim groups will surely
grow. 9/11 signaled the last gasp of Islamism rather
than the beginnings of its global challenge.
II
Terrorism, Joseph Conrad once wrote, is an act of
madness and despair. The madness of the Islamists’
spectacular attack on the World Trade Center is
self-evident; its despair lies in its inevitably
annihilating impact on the plotters and perpetrators
themselves, world Islamism in general, and the al
Qaeda networks, organizations, and systems of support
in particular (including the Taliban regime in
Afghanistan).
Although unique in its horror, in its desperation 9/11
can be compared to past terrorist acts that foretold
the ends of the movements in whose names they were
committed: for example, the abduction and murder of
the German industrialist Hans Martin Schleyer by the
Bader-Meinhoff gang in the summer of 1977 and the
abduction and murder, a year later, of Aldo Moro, the
dean of Italy’s senior political leaders after World
War II, by the Italian Red Brigades. In these cases a
swift and decisive response would devastate not only
the plotters, perpetrators, and their supporting
networks and organizations, but ultimately their
protective communist regimes and worldwide radical
leftist movements as well. Looking back after 9/11 it
seems to me that the left-wing terrorism of the 1970s
in Europe was indeed a futile attempt to break out of
the historical impasse and terminal structural crisis
reached by communism, radical labor movements, Third
Worldism, and revolutionary trends everywhere. The
terrorism of that period was the first visible
manifestation of that impasse and the prelude to the
final demise of those movements, including world
communism itself.
Today the hard-core Islamists’ spectacular terrorist
violence reflects a no less desperate attempt to break
out of the historical impasse and terminal structural
crisis reached by the world Islamist movement in the
second half of the 20th century. I predict this
violence will be the prelude to the dissipation and
final demise of militant Islamism in general. Like the
armed factions in Europe who had given up on society,
political parties, reform, proletarian revolution, and
traditional communist organization in favor of violent
action, militant Islamism has given up on contemporary
Muslim society, its sociopolitical movements, the
spontaneous religiosity of the masses, mainstream
Islamic organizations, the attentism of the original
and traditional Society of Muslim Brothers (from which
they generally derive in the way the 1970s terrorists
derived from European communism), in favor of
violence. Both were contemptuous of politics and had
complete disregard for the consequences of their
actions.
Michel Foucault, when asked about the social and
revolutionary significance of his books, answered
something to the effect that they are no more than
Molotov cocktails hurled at the system; they consume
themselves in the act of exploding and have no
significance beyond the flash they engender. Foucault
believed that the only way to oppose the system is
direct action in the form of local attacks,
intermittent skirmishes, guerrilla raids, random
uprisings, and anarchistic assaults. This is a
desperate rebellion without either cause or clear
objective.
Translated at the minimalist level into the activist
Islamist idiom, we get, first, what some Islamists
call “an act of rage in favor of God’s cause,†and
second, the rejection of politics in almost any
form—conventional, radical, and revolutionary—in favor
of the violent tactics of nihilism and despair. For
them, the only other alternatives are co-optation or
the admission of defeat.
Translated at the maximalist level, we get an
apocalyptic form of terrorism on a global scale: the
belief that spectacular violence will destroy the
obstacles to the global triumph of Islam, catalyze the
Muslim people’s energies in its favor, and create
poles of attraction around which the Muslims of the
world will rally—for example, the al Qaeda networks,
organizations, and training camps and the Taliban
model of a supposedly authentic Muslim society and
government for modern times.
As the September 11 attacks have shown, the
perpetrators of the apocalyptic form of terrorism,
like their European counterparts, are not the
desperately poor of the Arab world, but, more often
than not, well-off, upwardly mobile,
university-educated youths. They also share with their
European counterparts a sense of entrapment in an
alien and alienating monolithic sociopolitical reality
and a tragic world view centered around a violent and
salvific moment of truth that exposes the enveloping
world of untruth, false consciousness, and false
appearance. Out of the rubble, an essential Truth will
emerge. In Europe it was conceived as an authentically
humane and egalitarian socialist society. In the Arab
world it is the authentic Islamist order reflected in
such slogans as “Islam Is the Solution†and “Islam Is
the Answer.â€
The beginnings of this kind of apocalyptic vision can
be seen in the 1979 occupation of the Meccan holy
shrine. In Saudi Arabia the ruling tribal elite has
since the 1950s conspicuously wrapped itself, its
society, and its system in the mantles of strict
Muslim orthodoxy, moral purity, social uprightness,
and Bedouin austerity. At the same time the
contradiction between this official pretense and the
country’s real substance of life has only deepened.
According to official pretense, all non-Wahhabis are
Kafirs (apostates, infidels), but Saudi society is
managed and the economy run by these very infidels and
in huge numbers; Saudis kowtow in all important
matters, internal and external, to the United States
and its policies, and the ruling classeslead
profligate, ostentatious and debauched lifestyles,
mostly behind drawn curtains. All Riyadh—and the rest
of the Arab world—knows these things.
The sons and daughters of the system who took the
religious pretenses seriously staged an armed
insurrection, occupying the Meccan holy shrine in 1979
and shaking the kingdom to its foundations in the
process. In the world of Islam, no action could be
more spectacular than storming and seizing the Ka’ba
itself, although the occupation itself was peaceful.
The leader of the insurrection, Juhaiman Al-’Utaibi,
declared one of his followers the “Mahdi†(the divine
savior) and demanded an end to the ludicrous
discrepancy between official Saudi ideology and
pretense on the one hand and the substance of the
kingdom’s real life on the other by bringing the
latter into strict conformity with the religious
orthodoxy as officially announced and propounded.
It took some time to flush Juhaiman and his followers
out of the Ka’ba. The Saudis had to call in Western
assistance and expertise to be able to accomplish the
job without damaging the shrine. Of course, calling on
such help contradicted all the pious pretenses of the
regime, and all Saudi Arabia knew it too. Those
involved in the incident were eventually beheaded.
Like the 1979 occupiers of the Meccan shrine, the
young Saudi perpetrators of the September 11 attacks
were products of the same schizophrenic system. In
fact, their leader, bin Laden, may be seen as a more
dangerous, advanced, and global version of Juhaiman
Al-’Utaibi. While Juhaiman directed his desperate,
spectacular intervention against the most important
local legitimizing symbol of the Saudi system, bin
Laden attacked the American core without which the
local system could not possibly survive. But both acts
of terrorism exposed the essential weakness of today’s
Islamists: the embrace of the inevitable emergence of
a new Islamic order is itself a symptom of a
self-deluding fantasy that has afflicted the Arab and
Muslim world for more than two centuries.
III
A cultural form of schizophrenia is also attendant on
the Arab (and Muslim) world’s tortured, protracted and
reluctant adaptation to European modernity. This
process has truly made the modern Arabs into the
Hamlet of our times, doomed to unrelieved tragedy,
forever hesitating, procrastinating, and wavering
between the old and the new, between asala and
mu’asara (authenticity and contemporaneity), between
turath and tajdid (heritage and renewal), between
huwiyya and hadatha (identity and modernity), and
between religion and secularity, while the conquering
Fortinbrases of the world inherit the new century. No
wonder, then, to quote Shakespeare’s most famous
drama, that “the time is out of joint†for the Arabs
and “something is rotten in the state.†No wonder as
well if they keep wondering whether they are the
authors of their woes or whether “there’s a divinity
that shapes [their] ends.â€
For the Arabs to own their present and hold themselves
responsible for their 
future, they must come to
terms with a certain image of themselves buried deep
in their collective subconscious. What I mean is this:
as Arabs and Muslims (and I use Muslim here in the
historical and cultural sense), we continue to imagine
ourselves as conquerors, history-makers, pace-setters,
pioneers, and leaders of world-historic proportions.
In the marrow of our bones, we still perceive
ourselves as the subjects of history, not its objects,
as its agents and not its victims. We have never
acknowledged, let alone reconciled ourselves to, the
marginality and passivity of our position in modern
times. In fact, deep in our collective soul, we find
it intolerable that our supposedly great nation must
stand helplessly on the margins not only of modern
history in general but even of our local and
particular histories.
We find no less intolerable the condition of being the
object of a history made, led, manipulated, and
arbitrated by others, especially when we remember that
those others were (and by right ought to be) the
objects of a history made, led, manipulated, and
arbitrated by ourselves. Add to that a no less deeply
seated belief that this position of world-historical
leadership and its glories was somehow usurped from us
by modern Europe fi ghaflaten min al-tarikh—while
history took a nap, as we say in Arabic. I say
usurped—and usurpation is at the heart of Hamlet’s
tribulations and trials—because this position belongs
to us by right, by destiny, by fate, by election, by
providence, or by what have you.
With this belief goes the no less deeply seated
conviction that eventually things will right
themselves by uncrowning this usurper, whose time is
running out anyway, and by restoring history’s
legitimate leaders to their former station and natural
function. This kind of thought and yearning comes
through loud and clear in the work of authors like
Hasan Hanafi and Anwar Abdel-MaIek, as well as in the
tracts, analyses, and propaganda of the more
sophisticated Islamist thinkers and theoreticians.
The constellation of ideas they draw on is captured in
the title of a European classic, Spengler’s The
Decline of the West, the false implication being that
if the West is declining then the Arabs and Islam must
be rising. Or, to put it somewhat differently (in a
way that relates more to the title of Abdel-Malek’s
book Rih al-Sharq [The Wind of the East]), if the wind
of history is abandoning the sails of the West, then
it must be filling those of the East (East means
principally, here, Islam and the Arabs). If we use the
title of an equally famous Islamist classic by
Muhammad Qutb, Jahiliyyat al-Qarn al-Ishrin, The
Jahiliyya of the 20th Century, then the implication
would be, Now that European Modernity has come full
circle to the Jahili condition, the Arabs and Muslims
must be on the verge of leading humanity once more out
of the Jahiliyya created by Europe and defended by the
West in general.
But this is not the end of the story. Reviewing the
classics of Arab nationalism, it now often appears to
me that the deeper objective of these works was not so
much Arab unity as an end in itself but Arab unity as
a means of retrieving that usurped role of
world-historical leadership and of history-making. In
fact, I can easily argue that the ultimate but
unarticulated concern is not so much a struggle
against colonialism, imperialism, and foreign
occupation, or for independence, prosperity, and
social justice, but for the restoration of the great
umma (nation) to a role of global leadership
appropriate to its nature and mission. After all, the
historic civilizations of our part of the world have
always been of the conquering and extroverted type:
ancient Persia descending on Greece, Alexander
conquering Persia and everything else within reach,
Hannibal, Rome, Islam, the Ottomans, European
modernity, and so on.
When this unexamined, unexorcised, highly potent, and
deep-seated self-image collides with the
all-too-evident everyday actualities of Arab-Muslim
impotence, frustration, and insignificance, especially
in international relations, a host of problems emerge:
massive inferiority complexes, huge compensatory
delusions, wild adventurism, political recklessness,
desperate violence, and, lately, large-scale terrorism
of the kind we have become familiar with all over the
world.
The contradiction that I have been trying to delineate
is perhaps best captured—quite gently and very
ironically—in the title of Hussain Ahmad Amin’s
pointed and lively book, Dalil al-Muslim al-Hazin ila
Muqtada al-Suluqfi al-Qarn al-’Ishrin. The author is a
well-known Egyptian historian and high-ranking
diplomat and the son of Ahmad Amin, the great
historian produced by what the late Albert Hourani
called the Arab Liberal Age. Interestingly enough, the
title of Amin’s book hints at that great classic of
Western thought, Moses Maimonides’s The Guide for the
Perplexed (Gui, Dalalat al-Ha’irin). So a free
translation of Hussain Ahmad Amin’s title would read,
A Guide for the Sad andPerplexed Muslim Concerning the
Sort of Behavior Required by and in the 20th Century.
The contemporary Muslim or Arab is so sad and vexed in
Amin’s account because his cherished convictions about
his civilization, religion, and providence, and their
role in modern history are all given the lie by hard
realities every waking minute of his life.
Furthermore, the radical transformations and
sacrifices required to transcend this contradiction
are either undesirable or unbearable. So what else can
the Muslim or Arab do but muddle through his sad
perplexity in the 21st century with the conviction
that perhaps one day God or history or fate or the
revolution or the moral order of the universe will
raise his umma to its proper role once again. Under
these circumstances, various kinds of direct-action
violence (including terrorism in some of its most
spectacular forms) present themselves as the only
means of relief from this hopeless impasse.
There is no running away from the fact that the Arabs
were dragged kicking and screaming into modernity on
the one hand, and that modernity was forced on them by
a superior might, efficiency, and performance on the
other. Europe made the modern world without consulting
Arabs, Muslims, or anyone else for that matter and
made it at the expense of everyone else to boot.
While the Crusades were ultimately repulsed,
Bonaparte’s militarily insignificant adventure in
Egypt and Palestine not only triumphed but made a
clean sweep of all that had become irrelevant on our
side of the Mediterranean—the traditional Memluk and
Ottoman conduct of warfare, the supporting production
systems, local knowledges, and forms of economic,
social, legal, and political organization. The massive
difference between the effects of the Crusades and the
results of the French expedition of 1798 distills the
essence of European modernity and puts it on show for
our chastisement and edification.
In fact, modern Europe’s violent intrusion into the
Islamic and Arab worlds created a final and decisive
rupture with the past that I can only compare to the
no less final and decisive rupture caused by the
violent Arab-Muslim intervention in Sassanid Persia.
And just as the history of post-conquest Persia
stopped making sense without the Arabs and Islam, the
post-Bonaparte history of the Arab world stopped
making sense without Europe and modernity. In my view,
there is no running away from this reality no matter
how many times we reiterate the partial truth that
modern Europe got it all from us anyway: Averroes,
Andalusian high culture and civilization, science,
mathematics, philosophy, and all the rest. Without
finally coming to terms, seriously and in depth, with
these painful realities and their so far paralyzing
contradictions, we truly will abdicate our place in
today’s world.
Is there, then, an inevitable clash of civilizations
coming between an archaic Islamic world and the modern
secular West, as Huntington seems to affirm in The
Clash of Civilizations and the Remaking of World
Order? I would say that in the strong and serious
sense of clash, the answer in no. In the weak and more
casual sense of the term, the answer is yes.
Huntington argues that after the collapse of world
communism, the main source of grave international
conflict (and possible wars) ceased to be the hostile
rivalry between two incompatible totalizing economic
systems and came to be the antagonistic self-assertion
and vying of the large, comprehensive, and more or
less self-contained systems of fundamental beliefs and
values that dominate the post–Cold War scene, such as
traditional Islam on the one hand and triumphant
Western liberalism on the other.
I can make the same point differently by saying that
according to Huntington, now that the historical
challenge of communism, socialism, working-class
movements, and Third Worldism to Western capitalist
hegemony has come to a definite end, we have to look
for the sources of international danger, conflict, and
tension in the existing major belief and value systems
that are inherently incompatible not only with
capitalist liberalism but with each other as well.
For Huntington, civilization seems to reduce itself to
culture, culture to religion, and religion to an
archetypal constant that in the case of Islam is bound
to produce the phenomenon of Homo islamicus propelled
on a collision course with, let us say, the West’s
Homo economicus and instinctive liberalism as well as
with India’s Homo hierarchicus and natural polytheism.
It seems clear to me that Huntington’s thesis
involves, first, a reversion to old-fashioned German
philosophie des geistes and, second, a rehabilitation
of the classical orientalist essentialism that Edward
Said demolished so well in his book Orientalism. What
comes immediately to my mind in this context, for
SAMBUTAN
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas segala nikmat yang telah diberikan.
Saya turut berbahagia atas terbitnya buku kenangan yang berisi biodata, keinginan dan cita-cita dan juga pesan dan kesan kepada adik kelas, ustadz/ah SD Islam Alhikmah.
Buku Kenangan ini saya berharap bisa menjadi media komunikasi antar siswa dan ustadz/ah, serta menjadikan inspirator dan penyemangat hidup kepada yang membaca khususnya kepada yang nama-namanya tersebut di dalamnya. Bisa menjadi kenangan terindah sepanjang hayat tentang apa-apa yang yang telah diperoleh selama enam tahun di SD Islam al Hikmah Selokerto.
Terakhir semoga didikan, nasehat, ajakan dan bimbingan ustadz/ah semua selalu diingat dan dan dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh kesadaran.
Selokerto, 16 Juni 2008
HUMAM, S.Si.
Kepala SD Islam Al Hikmah
Afwan pak Humam,ana nitip pesan,blognya dibuatkan shoutbox/kotak pesan biar kita bisa ngasih pesan singkat,jazakumullah. (Dany Arif.dr SDIT Harapan Bunda,Semarang)
Post a Comment